Langsung ke konten utama

Sengketa Pengelolaan Coban Sewu dan Tumpak Sewu, Bupati Malang Minta Patuh Aturan

Malang.web.id - Suara gemuruh air terjun yang memesona di perbatasan Malang dan Lumajang kini diselingi gemuruh lain, yaitu suara sengketa pengelolaan kawasan wisata alamnya. 

Bupati Malang, Sanusi, akhirnya angkat bicara menanggapi tarik-ulur klaim pengelolaan antara Coban Sewu di wilayahnya dan Tumpak Sewu di Lumajang. 

Sengketa Pengelolaan Coban Sewu dan Tumpak Sewu, Bupati Malang Minta Patuh Aturan

Sanusi dengan tegas menyerukan agar semua pihak mematuhi aturan hukum yang berlaku sebagai dasar utama penyelesaian. Beliau menegaskan bahwa keberadaan izin resmi adalah prasyarat mutlak bagi setiap aktivitas pengelolaan di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya, Bupati Malang Sanusi menyampaikan pesan yang sangat jelas dan sederhana. "Kita ikuti aturan. Pengelola itu kan ijin. Kalau mereka punya ijin ya silahkan," ujarnya menanggapi sengketa pengelolaan Coban Sewu dan Tumpak Sewu. 

Pernyataan ini menjadi kompas utama bagi kedua belah pihak yang terlibat dalam polemik ini. Sanusi kemudian menjelaskan kompleksitas kewenangan atas area dasar air terjun yang menjadi sengketa.

Beliau menegaskan bahwa kawasan dasar air terjun pada prinsipnya berada di bawah otoritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Oleh karena itu, izin pengelolaan untuk area tersebut harus berasal dari tingkat provinsi. "Kalau dapat ijin dari Pemerintah Provinsi (Jawa Timur) boleh mengelola di bawah," jelas Bupati Malang mengenai sengketa pengelolaan Coban Sewu dan Tumpak Sewu.

Ketika ditanya lebih spesifik tentang status pengelola Coban Sewu, Sanusi menyebutkan bahwa pihak pengelola telah menunjukkan sebuah dokumen. "Kemarin dia (pengelola Coban Sewu) menunjukkan, katanya sudah punya izin," pungkasnya.

Di sisi lain, pengelola langsung Coban Sewu, Rohim, memberikan konfirmasi dan penjelasan yang lebih rinci. Rohim membenarkan bahwa pihaknya telah mengantongi izin resmi dari Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur. 

"Izin dari PU SDA sudah ada, sudah turun. Bukan ke saya, tapi ke Bumdes Sidorenggo, Ampelgading. Nah Bumdes kerjasama dengan saya," tuturnya. 

Rencana mereka adalah memberlakukan penarikan tiket di kawasan dasar air terjun tersebut. "Kami berencana akan menarik tiket di bawah, yang ditujukan ke agen wisata," jelas Rohim.

Untuk mengoordinasikan rencana tersebut, sebuah pertemuan telah dijadwalkan. "Pada tanggal 19 Januari kami berniat berkoordinasi di dasar, bersama Muspika Ampelgading. 

Berbagai legalitas yang kami kantongi saya bawa ke dasar saat koordinasi itu," sambungnya. Namun, pertemuan koordinasi itu tidak berjalan mulus dan justru memicu ketegangan baru. 

Pertemuan tersebut berubah menjadi adu argumen yang melibatkan perangkat desa setempat dan pengelola Tumpak Sewu dari Lumajang.

Rohim memberikan analisisnya atas penyebab ketegangan dalam sengketa pengelolaan Coban Sewu dan Tumpak Sewu itu. "Saat itu kita belum narik, hanya koordinasi. Tapi pihak pengelola Tumpak Sewu keberatan. Kemungkinan mereka belum tahu kalau izin dari Malang sudah keluar," ujarnya. 

Menurut dugaan Rohim, pihak Tumpak Sewu baru menyadari adanya izin yang telah dikeluarkan untuk pengelolaan kawasan dasar air terjun tersebut saat pertemuan berlangsung.

Malang.web.id melihat bahwa sengketa ini menyoroti pentingnya komunikasi dan koordinasi transparan antar pemangku kepentingan lintas wilayah. 

Penyelesaian sengketa pengelolaan Coban Sewu dan Tumpak Sewu memerlukan pendekatan kolaboratif yang mengedepankan kepatuhan hukum dan semangat kebersamaan. 

Alam yang indah ini seharusnya menjadi sumber kemakmuran bersama, bukan sumber perpecahan. Dialog yang konstruktif dan dipandu oleh regulasi yang jelas adalah satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan.

Postingan populer dari blog ini

20 Tempat Makan Babi di Malang, Surga Kuliner Non-Halal yang Wajib Dicoba

Kalau kamu berpikir keistimewaan kota ini cuma terletak pada hawa sejuk dan pemandangan alamnya, kita perlu mengobrol sebentar. Ada sisi lain yang sedang ramai dibicarakan oleh para foodies: dunia kuliner non-halal berbahan dasar babi.  Ya, Malang ternyata menyimpan surga tersembunyi dengan beragam olahan babi yang luar biasa, mulai dari hidangan tradisional NTT dan Bali, masakan Batak, hingga sajian Chinese food yang autentik. Bagi yang tidak memiliki batasan halal, menjelajahi kuliner babi di Malang ibarat melakukan perjalanan rasa lintas nusantara. Dari tekstur daging yang empuk, cita rasa gurih yang khas, hingga teknik masak yang beragam seperti panggang, bakar, tumis, hingga asap, semuanya menanti untuk dieksplor. Harganya pun relatif terjangkau, membuat petualangan kuliner ini semakin menarik. 20 Tempat Makan Babi di Malang, Surga Kuliner Non-Halal yang Wajib Dicoba 1. Warung Sejahtera Beralamat di Jalan Pisang Candi Barat No. 2, Warung Sejahtera adalah titik awal yang sempur...

Candi di Malang, Menelusuri Jejak Arsitektur Menawan dan Sejarah yang Tersembunyi

Pernah merasa penasaran dengan kisah apa yang tersimpan di balik batu-batu kuno? Kalau kamu berkunjung ke Malang, pesonanya tidak hanya terletak pada udara sejuk dan pemandangan alamnya.  Kota ini menyimpan harta karun sejarah yang bisikannya masih terdengar sampai sekarang: candi-candi dengan arsitektur menakjubkan.  Bagi kamu yang suka menjelajahi masa lalu dan mengagumi karya seni leluhur, mengunjungi candi-candi ini adalah pengalaman yang menyatukan edukasi dan ketenangan. Mari kita telusuri beberapa yang paling menawan. Candi di Malang: Menelusuri Jejak Arsitektur Menawan dan Sejarah yang Tersembunyi 1. Candi Singosari: Mahakarya Megah di Tengah Kesederhanaan Candi Singosari adalah salah satu ikon sejarah Malang yang paling mudah dijangkau. Dibangun pada abad ke-13 sebagai peninggalan Kerajaan Singhasari, candi ini adalah simbol kejayaan masa lalu yang masih kokoh berdiri. Begitu tiba di sana, matamu akan langsung tertuju pada ukiran batu yang halus dan penuh detail. Set...

Glamping di Malang, Nikmati Sensasi Menginap di Alam dan Seru River Tubing di Lembah Ledok Amprong

Bayangkan jika kabut pagi yang masih menyapu lembut hutan pinus, udara pegunungan yang segar dan dingin, serta gemericik sungai yang menjadi soundtrack alam Anda. Ini bukan mimpi, tapi pengalaman yang menanti di Lembah Bromo Ledok Amprong, Poncokusumo, Malang .  Destinasi yang satu ini menawarkan liburan keluarga yang jauh dari kebisingan, menggabungkan kenyamanan glamping dengan petualangan seru menyusuri sungai. Bagi banyak keluarga seperti keluarga Hendro, yang sengaja mencari ketenangan, tempat ini adalah jawaban. "Kami cari tempat yang tenang, tapi tetap ada aktivitas seru untuk anak-anak. Di sini lengkap," kata Hendro, menggambarkan alasan memilih Ledok Amprong sebagai pelarian akhir pekan mereka. Di sini, liburan bukan sekadar berpindah tempat, tapi tentang kembali menyatu dengan alam dan orang-orang terdekat. Glamping di Malang: Nikmati Sensasi Menginap di Alam dan Seru River Tubing di Lembah Ledok Amprong Surga Tenang di Kaki Bromo yang Cocok untuk Glamping Keluarga ...